Pengelolaan Air untuk Peningkatan Ketersediaan Air Tanaman Kelapa Sawit di PTPN VIII Cimulang PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Sabtu, 10 Februari 2007 02:51

Tahun Penelitian 2005

Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah.

Laporan akhir dibuat untuk melaporkan  kegiatan yang telah dilakukan selama tahun anggaran 2005 yaitu membuat bak pembagi, pembangunan alat pengukur debit manual di jalur S. Bubut, membuat jaringan irigasi di lapang untuk meningkatkan daerah layanan irigasi suplementer bagi tanaman kelapa sawit seluas kurang lebih 1 ha, percobaan lapang untuk mengkaji pengaruh irigasi suplementer (volume dan waktu pemberian) terhadap pertumbuhan vegetatif kelapa sawit dan dampak peningkatan aliran dasar (base flow) terhadap performance kelapa sawit pada musim kemarau, identifikasi lokasi pengembangan dan membuat untuk 4 buah Dam Parit dan upscalling pengembangan dam parit di DAS Cibeuteng dalam lingkup areal Perkebunan Kelapa Sawit PTPN VIII Cimulang.

 

 

Pembangunan jaringan irigasi dilakukan dengan memanfaatkan sumber air dari Dam Parit yang telah dibangun pada tahun sebelumnya dengan membangun jaringan irigasi tertutup sampai dengan bak pembagi. Pemberian irigasi suplementer dilakukan pada pada saat terjadi defisit air, maka dari bak pembagi dibuat jaringan irigasi tidak permanen dengan menggunakan selang. Untuk mengairi areal pertanaman yang posisinya terletak lebih tinggi digunakan pompa untuk mengangkat air sampai bak pembagi kemudian dilanjutkan dengan sistem gravitasi. Sedangkan untuk irigasi pertanaman kelapa sawit yang posisinya lebih rendah dari sumber air maka distribusi air sampai dengan bak pembagi maupun ke pertanaman dilakukan dengan sistem gravitasi.

 

Kajian tentang pengaruh irigasi suplementer (volume dan waktu pemberian) terhadap pertumbuhan vegetatif kelapa sawit dilakukan dengan sistem percobaan yang dilakukan di lapangan pada saat tanaman terjadi defisit air (Agustus s/d September).   Pemberian air dilakukan secara curah (penyiraman) pada areal perakaran tanaman dengan diameter 4 dan 5 m. Dosis pemberian air setara 10 ml curah hujan (10 l/m2) dan waktu pemberian air dilakukan tiap 3 hari sekali. Baris tanaman yang terdapat dibawah tanaman perlakuan diharapkan mendapatkan air rembesan dan dijadikan perlakuan base flow (B). Perlakuan diulang 3 di sajikan pada Tabel Perlakuan pemberian irigasi suplementer pada kelapa sawit di PTPN VIII, Cimulang, Jawa Barat. Parameter yang diamati yaitu: tinggi tanaman, diameter batang, jumlah dan panjang pelepah.

 

 Tabel Perlakuan pemberian irigasi suplementer pada kelapa sawit di PTPN VIII, Cimulang, Jawa Barat 

 

PerlakuanLuas areal yang diairi (m2)Jumlah pemberian(liter)IntervalpemberianKeterangan
A16,28 m262,8 liter3 hariPerlakuan 1
A27,86 m278,6 liter3 hariPerlakuan 2
B00-Base flow
K00-Kontrol

 

 

Identifikasi dan karakterisasi wilayah penelitian penting dilakukan sebelum menentukan pembangunan dam parit untuk mengetahui karakteristik lingkungan yang berhubungan dengan perhitungan neraca air, posisi dan dimensi dam, luas daerah tangkapan dan daerah target irigasi. Data tersebut antara lain akan digunakan dalam analisis neraca air lahan, Estimasi potensi kebutuhan air, penentuan letak dan dimensi channel reservoir dan  pemodelan dam parit.

 

Analisis neraca air lahan guna mengetahui periode defisit dan surplus, sedangkan analisis neraca air tanaman kelapa sawit juga dilakukan untuk mengetahui total kebutuhan air tanaman yang harus dipasok melalui irigasi. Analisis neraca air tanaman digunakan untuk menentukan kebutuhan air tanaman kelapa sawit. Pada prinsipnya metode ini dilakukan untuk mengetahui potensi kehilangan hasil tanaman digunakan nisbah ETR/ETM menurut FAO (Allen, 1998). Dengan teknik iterasi akan dicari volume dan interval irigasi yang harus ditambahkan agar hasil akhir dari pertanaman memiliki nisbah ETR/ETM < 0,2. Dimensi reservoir ditetapkan berdasarkan estimasi jumlah curah hujan dan aliran permukaan yang dapat dipanen dan jumlah defisit air. Lokasi yang dipilih merupakan saluran drainase atau anak sungai dengan lebar penampang yang menyempit yang memiliki banyak sungai berorde 1. Pemodelan dam parit mensimulasikan perubahan kondisi debit mikrodas sebelum dan setelah dibangun dam parit. Hasil simulasi diharapkan dapat membantu dalam proses penentuan jumlah, posisi, dan dimensi dam parit yang akan dibangun dalam suatu DAS.

 

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jaringan irigasi untuk areal dengan posisi lebih rendah dari sumber air/dam parit dilakukan dengan sistem gravitasi menggunakan pipa paralon diameter 2 inchi dengan panjang 100 m dari dam parit sampai ke bak pembagi. Distribusi air dari bak pembagi yang memiliki kapasitas tampung 6 m3 (Gambar 2 Pembagi di Perkebunan Kelapa Sawit PTPN VIII) ke areal pertanaman dilakukan dengan menggunakan sistem irigasi tidak permanen berpindah (mobile irrigation system) dengan menggunakan selang air.

 

 

{mosimage}

Gambar pembagi dengan kapasitas tampung 6 m3 di perkebunan Kelapa  Sawit PTPN VIII Cimulang, Jawa Barat 

 

{mosimage}

Gambar Fluktuasi ETR/RTM dan dosis irigasi untuk tanaman kelapa sawit di PTPN VIII Cimulang, Jawa Barat tahun 2005.

 

Hasil simulasi neraca air menunjukkan terdapat tiga tanggal dimana terjadi penurunan ETR/ETM (defisit air) yaitu pada tanggal 29 Mei, 9 Agustus dan 2 September 2005 (Gambar Fluktuasi ETR/ETM dan dosis irigasi untuk tanaman kelapa sawit di PTPN VIII) sehingga memerlukan pasokan irigasi sebesar 10 mm/hari. Pemberian irigasi tidak dilakukan pada tanggal 29 Mei karena meskipun terjadi defisit air persentase penurunan hasil (% RLY) masih relatif aman yaitu dibawah 12%.

 

 

Tanaman kelapa sawit di Cimulang memerlukan tambahan air pada bulan Agustus dan September masing masing selama 10 dan 20 hari. Kebutuhan air tambahan bagi tanaman kelapa sebanyak 5 ml/ hari setara dengan 5 l/m2 atau 50 m3/hari.  Debit aliran dasar pada saat musim kemarau tahun normal adalah 1,5 lt/hari atau setara dengan 129 m3/hari. Dengan demikian maka dam parit dapat tersebut dapat mengairi tanaman kelapa sawit seluas 3,0 ha.  

Dari hasil pengamatan tanaman kelapa sawit terlihat untuk tanaman yang mendapat pengaruh aliran dasar, pertambahan tinggi tanaman lebih cepat (15-25 cm perbulan) jika dibandingkan tanaman yang hanya mendapat curah hujan saja (7-13 cm perbulan). Pertambahan panjang pelepah daun relatif sama untuk tanaman yang mendapat pengaruh aliran dasar dan tanaman yang hanya memperoleh curah hujan (rata-rata 30 – 40 cm) seperti tampak pada vegetatif tanaman kelapa sawit di PTPN VIII Cimulang. Pertambahan jumlah pelepah tanaman yang mendapat pengaruh aliran dasar lebih sedikit hal ini mungkin disebabkan umur tanaman yang lebih muda jika dibandingkan tanaman kelapa sawit yang hanya mendapat curah hujan saja.

Upscalling dimaksudkan untuk pengembangan dam parit di Wilayah perkebunan kelapa sawit PTP VIII Cimulang sesuai dengan kriteria pengembangan dam parit, tujuan utama pengembangan dam parit, karakteristik Sub DAS dan perkebunan. Upscalling dilakukan secara bertahap berdasarkan keadaan jalur sungai (orde dan percabangannya) serta dengan memperhatikan areal perkebunan kelapa sawit yang akan diairi. Berdasarkan hal tersebut maka upscalling untuk Sub DAS Cibeuteung dilakukan dalam 4 tahap yaitu: (1) Sub DAS Cibeuteung dimana terdapat dam parit pada orde 2 sampai anak sungai Orde 5. (2) Sub DAS Cibeuteung sampai pertemuan dengan sub DAS Kalijati yaitu sampai orde 5. (3) Sub DAS Kalijati dan Cibeuteung sampai pertemuan 2 sungai tersebut. (4) pada keseluruhan Sub DAS Cibeuteung dengan outlet perbatasan Sungai Cibeuteung dengan sungai Cisadane. Dalam laporan ini hanya dibahas upscalling sampai tahap 3 yaitu pada DAS Cibeuteung dengan outlet di Orde 5. Di wilayah perkebunan kelapa sawit PTPN VIII dapat dikembangkan 80 buah dam parit, (Gambar) dalam hal ini sebanyak 76 dipergunakan untuk irigasi tanaman kelapa sawit.

{mosimage}

{mosimage}

{mosimage}

{mosimage}

 

Gambar Pertumbuhan vegetatif (tinggi, diameter, jumlah dan panjang pelepah)  tanaman kelapa sawit di PTPN VIII Cimulang, Jawa Barat tahun 2005. 

{mosimage}

Gambar Peta jumlah dan posisi dam parit yang dapat dikembangkan di daerah PTPN VIII Cimulang, Jawa Barat

??????????? ????
???????? ?????? ? ??????????
Terakhir diperbarui Selasa, 22 April 2014 03:12