|
PENGEMBANGAN SISTEM PANEN HUJAN DAN ALIRAN PERMUKAAN SEBAGAI SUMBER IRIGASI ALTERNATIF KEBUN KELAPA SAWIT Budi Kartiwa Salah satu faktor yang menjadi pembatas dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit adalah faktor keterbatasan air yang erat kaitannya dengan jumlah dan distribusi curah hujan pada suatu wilayah. Curah hujan yang rendah atau distribusi curah hujan yang tidak merata menyebabkan terjadinya defisit air atau kekeringan fisiologis yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman.
Untuk menjaga kesinambungan produksi dan produktivitas diperlukan upaya penyediaan air irigasi untuk menjamin kebutuhan air kelapa sawit pada periode cekaman air yang umumnya terjadi pada musim kemarau. Salah satu upaya penyediaan air irigasi untuk kebun kelapa sawit adalah dengan pemanenan air hujan dan aliran permukaan. Prinsip dasar sistem panen hujan adalah upaya untuk mengumpulkan dan menampung air yang berasal dari curah hujan dan aliran permukaan untuk dimanfaatkan sebagai sumber irigasi. Berdasarkan survei identifikasi potensi sumberdaya air di Kebun Sawit PT Astra Agro Lestari di Kec. Pangkalan Banteng, Kab. Kotawaringin Barat pada bulan Februari 2009, jenis bangunan panen hujan yang dapat dikembangkan di wilayah yang disebut Bukit Tengkorak adalah “embung” yang memanfaatkan cekungan alami diantara lahan pengembangan kebun kelapa sawit dengan bentuk wilayah bergelombang. Gambar 1. Pengukuran Topografi menggunakan GPS Geodetik untuk mengetahui elevasi outlet embung secara akurat
Gambar 2. Pengukuran Topografi menggunakan Theodolit untuk mengidentifikasi volume embung Dari beberapa embung yang diidentifikasi dengan mempertimbangkan daerah tangkapan air (DTA) eksternal, kapasitas tampung air, jalur sadap aliran permukaan dan letak daerah target irigasi, efektifitas pengembangan bangunan panen hujan dapat dilakukan di “tiga embung utama” masing-masing terletak di Blok B-10; Blok B-11/6 dan Blok B-11/15 (Gambar 1 dan Tabel 1). Gambar 3. Peta Kondisi Hidrologis dan Topografi areal Afdeling B PT GSPP Tabel 1. Posisi geografis, dimensi luas dan volume tampung air tiga embung utama  Berdasarkan hasil pengukuran luasnya, Embung B-11/15 mempunyai kapasitas tampung air sebesar 8.051 m3, artinya dengan memanen air hujan pada awal musim hujan (1 Nopember) air yang dapat ditampung pada bangunan panen hujan terakumulasi secara merata setelah 1 bulan sejak pengisian (awal Desember) yaitu sebesar 8.051 m3. Volume air tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan tanaman seluas 3,4 ha selama + 35 hari pada musim kemarau (awal September – awal Oktober). Fluktuasi ketersediaan air harian yang dapat ditampung dari daerah tangkapan air Embung B-11/15 dan Bukit Tengkorak selama periode musim hujan disajikan pada Gambar 5. Gambar 4. Posisi dan dimensi luas Embung B-11/15 
Gambar 5. Fluktuasi ketersediaan air harian yang dapat ditampung dari daerah tangkapan air Embung B-11/15 dan Bukit Tengkorak selama periode musim hujan Tabel 2 menyajikan kebutuhan irigasi tanaman menurut layanan irigasi dari embung B-10, B-11/6 dan B-11/15. Kebutuhan irigasi untuk melayani lahan di sekitar embung B-10 seluas 15.0 hektar adalah 310.5 m3/hari. Nilai ini dihitung berdasarkan analisis neraca air tanaman tahun 2000-2007 yang menunjukkan bahwa kebutuhan irigasi rata-rata selama puncak musim kemarau sebesar 62.1 mm/bulan atau setara dengan irigasi sebesar 20.7 m3/ha/hari. Irigasi diberikan selama 3 bulan antara bulan Agustus-Oktober. Untuk setiap luas satuan irigasi (yang dihitung berdasarkan pertimbangan dimensi pipa atau saluran pendistribusian), interval irigasi ditetapkan setiap 10 hari sekali untuk setiap rotasi irigasi. Dengan mempertimbangkan interval irigasi, luas lahan serta efisiensi irigasi sebesar 75%, maka dosis irigasi yang diberikan untuk setiap luas satuan rotasi irigasi bersumber dari embung B-10 adalah sebesar 4.8 lt/dt selama 24 jam. Tabel 2. Kebutuhan, Jadwal, Interval dan Dosis Irigasi Berdasarkan analisis Neraca Air Tanaman.
Info Agroklimat dan Hidrologi Vol.4 No. 5 Oktober 2009 |