Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Survei Investigasi Desain Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Mendukung Komoditas Perkebunan PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 14 April 2008 18:16

Survei Investigasi Desain Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Mendukung Pengembangan Komoditas Perkebunan di Nusa Tenggara Timur 

 

Pengembangan komoditas perkebunan  di lahan kering beriklim kering memerlukan dukungan pengelolaan sumberdaya air yang tepat terutama pada aspek potensi sumberdaya  air yang bisa digunakan sebagai pemasok kebutuhan air untuk komoditas pertanian yang dikembangkan (dimana dan berapa jumlah yang diperlukan)  dan rancang bangun (desain) dari sarana pendukung untuk mengeksploitasi sumberdaya air (dam parit, sumur dangkal, sumur dalam, jenis dan kapasitas pompa yang digunakan). 

   

Dari segi sumberdaya iklim lahan kering umumnya mempunyai curah hujan relatif kecil bahkan ada yang kurang dari 900 mm/tahun, distribusi hujan yang ada umumnya terjadi pada periode yang singkat, sehingga hujan yang jatuh tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan komoditas perkebunan.  Pengembangan komoditas perkebunan yang mensyaratkan kontinyuitas produksi dan kualitas hanya dapat dipenuhi dengan jaminan ketersediaan air yang memadai.  Dengan demikian ketersediaan sumberdaya air merupakan prasayarat yang mutlak untuk pengembangan pertanian di lahan kering.

 

Survei investigasi desain pengelolaan sumberdaya air adalah serangkaian kegiatan untuk mendeteksi keberadaan sumberdaya air (air tanah dan air permukaan), menganalisis debit air yang berpotensi untuk kebutuhan pengairan dan membuat gambaran desain pengelolaan sumberdaya air (rancang bangun, rencana anggaran biaya, dan kelayakan finansial).

 

Pelaksanaan survei investigasi desain pengelolaan sumberdaya air melalui serangkaian kegiatan yaitu : karaterisasi biofisik daerah penelitian; analisis  potensi sumberdaya air; penentuan kebutuhan air tanaman, koordinasi dan partisipasi.

 

Karakterisasi Biofisik Daerah Penelitian

Karakteristik biofisik yang diidentifikasi meliputi karakteristik geometri dan morfometri DAS di lokasi penelitian, topografi,  jenis tanah, serta tutupan lahan. Hasil karakterisasi dan analisis akan disajikan dalam format berbasis Sistem Informasi Geografik.

 

Karakteristik Geometri dan Morfometri DAS

Karakterisasi geometri meliputi analisis luas dan keliling  DAS, indeks Grapelius yang mencerminkan bentuk DAS; persegi ekuivalen (Roche, 1963) untuk membandingkan karakteristik aliran dari beberapa DAS yang berbeda; Indeks Kemiringan DAS. Karakterisasi morfometri meliputi identifikasi tipe jaringan, kerapatan DAS, klasifikasi order sungai, serta analisis rasio percabangan, rasio panjang dan rasio luas jaringan sungai.

 

Topografi dan Jenis Tanah

Karakterisasi topografi dilakukan berdasarkan identifikasi peta rupa bumi skala 1.25000.  Sedangkan jenis tanah diidentifikasi dari tanah skala 1:250.000. 

Analisis  Potensi Sumberdaya Air

 

Sumberdaya Air Permukaan

Potensi air permukaan berupa aliran sungai diidentifikasi berdasarkan pengukuran langsung menggunakan current meter  serta aplikasi model hidrologi. Pengukuran dilakukan saat survei lapangan pada suatu titik yang telah diketahui posisi geografisnya berdasarkan pengukuran menggunakan GPS (Global Positioning System). 

 

Sumberdaya Air Tanah

Potensi Air Tanah diidentifikasi menggunakan survei geolistrik menggunakan Terra Meter.  Pengukuran geolistrik di lapangan menghasilkan nilai tahanan semu dari batuan yang ada di dalam tanah. Nilai tahanan semu tersebut kemudaian di analisis untuk menentukan kedalaman dan ketebalan akuifer. Penentuan potensi air tanah dari masing-masing akuifer didasarkan pada jenis batuan, kedalaman dan ketebalan akuifer seperti pada tabel berikut:

Kelas Tahanan Jenis Batuan Makna hidrogeologiPotensiPerkiraan Debit (lt/dt) 
Nilai tahanan (Wm)Ketebalan (m) 
0-452-43dominasi liat atau liat berkerikilLapisan akuifer tidak jenuh airKurang potensial1,6-5  
 
45-3000-47batupasir, batukapurLapisan akuifer  jenuh air Sangat potensial> 5 
 
> 300NRbatuan kompakLapisan non akuiferTidak Potensial0 - 1,5  
 
  

Sumberdaya Air Mata Air

Potensi air mata air diidentifikasi berdasarkan pengukuran debit yang keluar dari mata air menggunakan current meter.  Posisi titik pengukuran debit ditetapkan menggunakan GPS.

 

 

Kebutuhan Penggunaan Air Untuk Pengembangan Perkebunan

 

Pengembangan perkebunan di lahan kering memerlukan dukungan ketersediaan air yang cukup baik dari segi ruang dan waktu.  Agar ketersediaan air yang ada dapat digunakan seoptimal mungkin perlu dihitung jumlah kebutuhan air untuk setiap komoditas yang akan dikembangkan. Kebutuhan air untuk tanaman pada dasarnya merupakan fungsi keseimbangan air yaitu antara jumlah yang masuk dan jumlah air yang keluar dari sistem keseimbangan tersebut pada tempat dan waktu tertentu atau yang seringkali dikenal dengan neraca air tanaman.

 

Neraca air tanaman merupakan imbangan kebutuhan air yang digunakan oleh tanaman dalam suatu sistem terpadu antara atmosfer-tanaman-tanah pada masa dan lokasi tertentu. Jumlah air yang tersimpan dalam tanah merupakan fungsi dari air yang masuk (input) dengan air yang keluar dari sistem tersebut pada saat tertentu seperti pada persamaan berikut:

 (P + Rc ) - (E + T + Dr +Rs ) =   ∠ S  

P  = hujan ; Rc = kapiler ; E = evaporasi ; T=  transpirasi ; Rs = aliran permukaan ; Dr = drainase 

Koordinasi dan Partisipasi

Pelaksanaan survei investigasi dan desain pengelolaan sumberdaya air di Timor Tengah Selatan , Lembata dan Sumba Barat tidak akan terlepas dari keterlibatan instansi terkait baik tingkat provinsi maupun kabupaten terutama dalam hal koordinasi (perencanaan, pelaksanaan dan monitoring) yaitu dengan Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timar, Sub Dinas Pengairan dan Dinas Pertambangan. Selain itu partisipasi dan peran serta masyarakat di ketiga wilayah tersebut  sangat diperlukan dalam mendukung kegiatan ini. Gambar 1 mengilustrasikan jejaring kinerja dan peran serta dari pemangku kepentingan survei investigasi dan desain pengelolaan sumberdaya air di ketiga wilayah penelitian.

  

{mosimage} 

Gambar.1 Jejaring kinerja dan peran serta dari pemangku kepentingan survei investigasi dan desain pengelolaan sumberdaya air 

Potensi sumberdaya air di tiga kawasan mayarakat perkebunan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Survei investigasi dan desain pengelolaan air yang dilakukan di 3 kawasan mayarakat perkebunan (Kambun) di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu di Kambun Kodi, Kabupaten Sumba Barat; Kambun Ille Ape,  Kabupaten Lembata dan Kambun Amanuban,  Kabupaten Timor Tengah Selatan menghasilkan data dan informasi sebagai berikut:  

Kambun Ile Ape

Potensi sumberdaya air tanah yang dapat diandalkan untuk mendukung pengembangan komoditas Jambu Mete di Kambun Ile Ape di Kabupaten Lembata tergolong kelas potensial (debit > 5 lt/dt) dan kurang potensial (debit 1,6 lt/dt-5 lt/dt).  Potensi sumberdaya air permukaan tidak bisa dieksploitasi karena tidak mempunyai aliran dasar, sifat tanah sangat porus (pasiran) sehingga walaupun pola aliran sungai berupa dendritik tidak memungkinkan dibangun dam parit sebagai bangunan pemanen air

  

Kambun Kodibangedo

Potensi sumberdaya air yang dapat dieksploitasi untuk untuk mendukung pengembangan komoditas Jambu Mete di Kambun Kodibangedo di Kabupaten Sumba Barat adalah air permukaan dan potensi air tanah. Luas target irigasi minimum yang dapat dipasok untuk pngembangan jambu mete dengan meanfaatkan 50 % kapasitas debit minimum sungai Waiha dan Bondokodi, masing-masing adalah seluas 1025 ha dan 236 ha. Potensi sumberdaya air tanah untuk mendukung pengembangan komoditas Jambu Mete di Kambun Kodibangedo di Kabupaten Sumba Barat tergolong kelas Potensial dan Kurang Potensial.

  

Kambun Amanuban, Kabupaten Timor Tengah Selatan

 

Potensi sumberdaya air tanah yang dapat diandalkan untuk mensuplai kebutuhan air untuk pengembangan komoditas kelapa tergolong kelas potensial dan kurang potensial. Sumur dangkal dapat dikembangkan di sekitar pemukiman di sebelah utara sepanjang jalan lintas desa Toineke sampai desa Kualin pada ketinggian < 20 m dpl.  Potensi sumur dalam dapat dikembangkan di sebelah selatan jalan lintas Toineke pada ketinggian antara > 20 – 60 m dpl. Ilustrasinya disajikan pada gambar 2. Rekapitulasi hasil identifikasi potensi sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas perkebunan di tiga kambun Provinsi Nusa Tenggara Timur disajikan pada tabel berikut:

   

{mosimage} 

Gambar 2.  Ilustrasi kedalaman dan ketebalan akuifer Kambun Atambua

  

Tabel berikut merupakan rekapitulasi dari hasil identifikasi potensi sumberdaya air tanah yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas perkebunan di tiga kambun Provinsi Nusa Tenggara Timur

  
LOKASIKOMODITASKEB.AIR(lt/hari/tan.)POTENSI SUMBERDAYA AIR
AIR PERMUKAANAIR TANAH
   SungaiDebitm3/dtPotensi*Debit lt/dt
Ile Ape      
NagawutungJambu Mete6,2-- 6 KP1,6-5
Ile apeJambu Mete6,2-- 4 P> 5
Sumba Barat      
KodiJambu Mete4,8BondokodiWaiha0,241.0469 KP2 P1,6-5> 5
Timor Tengah Selatan      
AmanubanKelapa6,8--20 KP1 P1,6-5> 5
 *6 KP:  Enam titik pengukuran tergolong ke dalam kelas kurang potensial; 4 P :  Empat titik pengukuran tergolong ke dalam kelas Potensial 

Desain bangunan dan rincian biaya pengelolaan sumberdaya air

 

 

A. Desain bangunan eksploitasi air tanah

 

Desain bangunan eksploitasi air tanah di ketiga wilayah kambun yatiu kambun Ile Ape, kambun Kodi dan kambun Amanuban, mengacu pada standar Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur terdiri dari: rumah pompa, sumur bor dan pompa generator (PT. Oenam, 2005). Ilustrasi desain prasarana untuk mengeksploitasi sumberdaya air tanah  disajikan pada gambar 3, 4 dan 5.

 

{mosimage}

Gambar 3. Desain rumah pompa tampak depan

{mosimage} 

Gambar 4. Gambar irisan detail rumah pompa

{mosimage}  

 Gambar 5. Gambar detail bak penampung  

 

 

B. Desain irigasi eksploitasi aliran permukaan

 

Pemanfaatan aliran permukaan untuk pengembangan irigasi jambu mete hanya dapat dilakukan di Kambun Kodibangedo dengan memanfaatkan aliran Sungai Waiha dan Bondokodi. Berdasarkan survei yang dilakukan pada tanggal 24 November 2006, yang dianggap masih merepresentasikan periode akhir musim kemarau, didapatkan debit yang terukur di sungai Waiha dan sungai Bondokodi yang melintas di kambun Kodibangedo, masing-masing adalah 1,046 m3/detik dan  0,241 m3/detik.

 

Kebutuhan irigasi maksimum Jambu Mete di Kambun Kodibangedo  berdasarkan analisis kebutuhan air tanaman adalah sebesar 0,51  liter/detik/ha.  Dengan asumsi bahwa hanya 50% kapasitas debit minimum dari Sungai Waiha dan Bondokodi dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi, luas total lahan di Kodibangedo yang dapat dirigasi mencapai 1261 ha, masing-masing seluas 1025 ha memanfaatkan irigasi Sungai Waiha, sisanya seluas 236 ha memanfaatkan irigasi  Sungai Bondokodi.

 
Untuk mengembangkan sistem irigasi kambun Bondokodi, diperlukan spesifikasi minimum pompa sebagai berikut: 
Daya5.5 tenaga kuda
Diameter pipa50 mm
Debit30 m3/jam ~ 8 l/dt
Daya hisap6 m
Daya dorong30 m
Kapasitas maks. BBM4.8 lt
Durasi
5 – 6 jam
 

 

 

Berdasarkan asumsi bahwa pompa dihidupkan rata-rata selama 6 jam setiap hari, maka satu buah pompa dengan daya 5.5 tenaga kuda dan debit lebih kurang 8 lt/dt, akan mampu mengairi lahan jambu mete seluas 4 ha/hari. Untuk setiap satuan target irigasi seluas 4 ha, sistem irigasi yang dikembangkan  membutuhkan pompa irigasi dengan daya minimum 5.5 tenaga kuda; pipa saluran iberdiameter 3 inci sepanjang 500 m; katup pembagi, bak penampungan berukuran panjang 2 m, lebar  1.5 m dan tinggi 2 m serta galian tanah dipadatkan untuk menyalurkan air irigasi ke lahan.  Sketsa desain irigasi untuk satuan target irigasi seluas 4 ha disajikan pada Gambar 6

 

   

{mosimage} 

Gambar 6. Sketsa desain jaringan irigasi Waiha dan Sungai Bondokodi untuk satuan target irigasi seluas 4 ha, Kambun Kodi Bangedo, Sumba Barat 

 Hendri Sosiawan

Terakhir diperbarui Senin, 14 April 2008 18:51
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com