Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Prakiraan Hujan Musim Kemarau 2008 di Sentra Produksi Pertanian PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 14 April 2008 17:10

Kondisi Iklim Global pada Bulan Maret 2008

Kondisi iklim di Indonesia dipengaruhi oleh sirkulasi laut-atmosfer di Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Beberapa indikator yang sering digunakan dalam memantau perkembangkan iklim adalah suhu muka laut di Pasifik dan Atlantik, Indeks Osilasi Selatan, dan Dipole Mode. 

 

 

Kondisi Iklim Global pada Bulan Maret 2008

 

Kondisi iklim di Indonesia dipengaruhi oleh sirkulasi laut-atmosfer di Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Beberapa indikator yang sering digunakan dalam memantau perkembangkan iklim adalah suhu muka laut di Pasifik dan Atlantik, Indeks Osilasi Selatan, dan Dipole Mode.

 

 

Anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di Zone Nino 3.4  Samudera Pasifik sejak bulan Oktober 2007 sampai akhir Maret 2008 sudah dibawah -1oC yang mengindikasikan La-Nina.  Begitu pula dengan Indeks Osilasi Selatan (Southern Oscillation Index/SOI) yang konsisten positif  sejak bulan November 2007.  Dipole Mode Index (DMI) walapun berfluktuasi namun dalam kondisi normal selama 5 bulan terakhir (Gambar 1).  Indikar SST dan SOI menunjukkan kondisi La Nina sedang berlangsung di kawasan Samudera Pasifik.  Kondisi ini berdampak terhadap tingginya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, seperti . 

 

 {mosimage}

Gambar 1.  Anomali SST Nino 3.4., DMI dan SOI sampai Maret 2008
Sumber : www.ioc3.unesco.org dan www.longPaddock.qld.gov.au
 

 

 

 

Kondisi La Nina yang sudah berlangsung sejak bulan Oktober 2007 menyebabkan curah hujan yang tinggi di wilayah Indonesia. Hasil pantauan NOAA terhadap presipitasi periode Januari-Februari 2008 menunjukkan cura hujan yang tinggi dan anomali positif curah hujan di wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua (Gambar 2.)

 

   

{mosimage} 

Gambar 2.  Presipitasi dan anomalinya di wilayah Indonesia periode 15 Januari – 14 Februari 2008 (sumber : www.cpc.noaa.gov)  

 

 

Prediksi Hujan Periode April – Juli 2008

 

Hasil prediksi anomali SST dari berbagai model yang dikeluarkan  oleh IRI (International Research Institute for Climate Prediction) menunjukan peluang terjadinya La-Nina lebih tinggi di bandingkan kondisi Normal dan El Nino.  Menurut lembaga tersebut kondisi La Nina diprediksi akan berlangsung sampai pertengahan tahun 2008 (Gambar 3.)

  

 {mosimage}

Gambar 3.  Peluang kejadian La Nina dan prediksi Anomali SST Nino 3.4 (sumber: www.iri.columbia.edu) 

 

Dengan menggunakan data Automatic Weather Station (AWS) Balai Penelitian Agroklimat dan hidrologi secara rutin melakukan up-dating prediksi curah hujan bulanan setiap 3 bulan.  Dengan menggunakan data prediksi suhu muka laut Nino 3.4,  curah hujan di beberapa daerah di Indonesia diprediksi menggunakan metode Filter Kalman.   Hasil prediksi curah hujan untuk bulanan pada beberapa daerah untuk periode April – Juli 2008 disajikan pada Gambar 4. 

 

  

{mosimage} 

Gambar 4.  Prediksi curah hujan bulan April sampai Juli 2008

 

Hasil prediksi menunjukkan bahwa periode musim kemarau (MK) 2008 mulai pada bulan Mei di daerah Sukamandi, Pusakanegara (Jawa Barat) dan Wonosari (DI Yogyakarta). Memasuki bulan Juni sebagian besar daerah di Sumatera curah hujan maíz tinggi yaitu Sampali (Sumut), Singkarak (Sumbar),  Taman Bogo (Lampung), Babuludarat dan Lempake (Kalimantan Timur). Berdasarkan sifat hujannya sebagian besar daerah pada MK 2008 berkisar dari Normal sampai Atas Normal (Gambar  5).  Daerah dengan sifat hujan dibawah normal adalah Wonosari pada bulan Mei – Juli 2008 dan Taman bogo pada bulan Mei 2008. 

     

{mosimage} 

Gambar 5.  Prediksi sifat hujan bulan April sampai Juli 2008

 

Hasil prediksi hujan untuk wilayah Indonesia dari IRI menunjukkan peluang hujan diatas normal semakin meningkat dari bulan April sampai Juli 2008.  Daerah yang diprediksi mempuyai peluang hujan diatas normal yang tinggi adalah wilayah Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian barat, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Papua bagian Barat.

  

{mosimage} 

Gambar 6. Prediksi hujan di wilayah Indonesia dari IRI bulan April – Juli 2008  (sumber : www.iri.columbia.edu)  

 

 

Peta Prakiraan Musim di Sentra Produksi Padi Pulau Jawa.

 

Peta Prakiraan Musim di sentra produksi padi Pulau Jawa adalah hasil tumpang tepat antara peta prakiraan MK 2008 (BMG) dan peta lahan sawah (BBSDLP).  Peta Prakiraan MK 2008 ini merupakan peta digital yang disusun dengan menggunakan perangkat lunak Arc GIS 9.1. Peta in terdiri atas 3 peta yaitu permulaan MK 2008, pergeseran awal terhadap normal MK 2008, dan sifat hujan MK 2008

 

 

Peta Permulaan MK Tahun 2008

 

Peta permulaan musim kemarau (MK) dibagi menjadi 8 (delapan) kelas yaitu permulaan MK pada :  1) April I, 2) April II, 3) April III,   4) Mei I, 5) Mei II, 6) Mei III,  7) Juni I dan 8) Juni II serta  Non ZPI.  Secara umum permulaan MK dimulai di Jawa bagian Timur dan berakhir di Jawa bagian Barat (Gambar 7).

 

{mosimage} 

Gambar 7.  Peta permulaan MK 2008 di sentra produksi padi Pulau Jawa

 

Permulaan MK pada April I tersebar di sekitar 12% sawah (443.792 ha), yaitu terdapat di sebagian kecil pantai utara Jawa Timur, di sebagian kecil Pantai Utara dan  Pantai Selatan Pulau Madura serta di sepanjang pantai Selatan Jawa Timur mulai dari Wonogiri sampai Malang.

 

Permulaan MK pada April II tersebar sekitar 16%  sawah (579.028 ha), yaitu terdapat di Pantai Utara Jawa Barat, sebagian DIY (Kabupaten Sleman dan bagian Utara Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul), dan sebagian Jawa Tengah (Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen,  bagian timur Ngawi, bagian barat Grobogan dan Kota Ngawi), pantai utara Situbondo sampai Banyuwangi dan pantai timur Madura.

 

Permulaan MK pada April III tersebar sekitar 15% sawah (531.339 ha), yaitu di bagian Timur Jawa Tengah (Magelang, Boyolali, Salatiga, Wonogiri, pantai Timur Kabupaten Pati, dan Blora) dan bagian Barat Jawa Timur (Bojonegoro, Madiun, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Mojokerto, Pasuruan, Batu, Malang, dan sebagian kecil Banyuwangi).

 

Permulaan MK pada Mei I tersebar sekitar 13% sawah (471.331 ha), yaitu di bagian selatan Indramayu, bagian barat ubang, dan sebagian Kabupaten Bandung, Sumedang, Kuningan, Cirebon, Brebes, Kebumen, Purworejo, Kulonprogo, Bantul, Gunung Kidul, Grobogan.  Kelas ini juga terdapat di pantai utara Jawa Tengah, yaitu di Kabupaten Kendal, Semarang, Demak, Jepara.  P. Madura juga didominasi oleh kelas Mei I yaitu di Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan.

 

Permulaan MK pada Mei II tersebar sekitar 18% sawah (632.025 ha), yaitu di Jawa Barat terdapat di sebagian Kabupaten : Serang, Tangerang, DKI Jaya, Bekasi, Karawang, Subang, Sumedang, dan Majalengka.  Di Propinsi Jawa Tengah terdapat di sebagian Kabupaten : Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Magelang, Purwodadi, Kudus, Jepara dan Pati.  Di Propinsi Jawa Timur terdapat di sebagian Kabupaten : Sidoarjo, Pasuruan, Lumajang, Jember dan Banyuwangi.

 

Permulaan MK pada Mei III tersebar sekitar 13% sawah (459.788 ha).  Di Jawa Barat terdapat di pantai Timur Kabupaten Pandeglang, Kuningan dan Ciamis.  Di Propinsi Jawa Tengah sebagian besar permulaan MK terjadi pada kelas ini, yaitu di Kabupaten: Brebes, Cilacap, Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Pemalang, Pekalongan, Temanggung dan Semarang.  Di Propinsi Jawa Timur terdapat di Kabupaten Kediri, Blitar, Probolinggo, Lumajang dan Jember.

 

Permulaan MK pada Juni I tersebar sekitar 9% sawah (318.509 ha), yaitu  di Propinsi Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Bandung, Subang, Garut, Tasikmalaya, Majalengka dan Ciamis) dan Jawa Tengah (Cilacap, Tegal, Pekalongan, Pemalang, Batang, Banjarnegara dan Wonosobo).

 

Permulaan MK pada Juni II tersebar sekitar 2% sawah (65.258 ha) dan hanya terdapat di Propinsi Banten yaitu di Kabupaten Lebak dan sebagian Kabupaten Pandeglang dan Jawa Barat yaitu Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

 

Peta Pergeseran Permulaan MK 2008 Terhadap Normal 

Peta pergeseran permulaan musim kemarau tahun 2008 terhadap normalnya dibagi ke dalam 5 kelas, yaitu : 1) maju 2 dasarian, 2) maju 1 dasarian, 3) normal, 4) mundur 1 dasarian, dan 5) mundur 2 dasarian (Gambar 8). 

 

{mosimage} 

Gambar 8.  Peta pergeseran MK 2008 di sentra produksi padi Pulau Jawa

 
             

Pada tahun 2008, 62% wilayah Pulau Jawa (2.215.567 ha) mempunyai permulaan MK normal atau tetap. Wilayah ini tersebar hampir di seluruh Jawa Barat dan Jawa Tengah serta di bagian tengah Pulau Madura. Wilayah yang permulaan MK-nya  maju 2 dasarian sekitar 5% (166.887 ha) yaitu di sebagian Kabupaten Ngawi, Magetan, Madiun, Bojonegoro, Pantai Selatan Cilacap, Kebumen, dan Sumedang.  Sebaran wilayah yang permulaan MK-nya maju 1 dasarian terdapat 11% wilayah  (392.787 ha). Di Jawa Timur tersebar di Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Jember, Situbondo, dan Bondowoso serta di Jawa Barat di Kabupaten Kuningan. 

 

Wilayah yang permulaan MK-nya mundur 1 dasarian ada 11% wilayah (394.031 ha), yang tersebar di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, sebagian Kabupaten Cianjur dan Bandung, sedangkan di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Brebes, Tegal, pantai Utara Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati dan Rembang, serta di Jawa Timur terdapat di Kabupaten Tuban, Sidoarjo, Pasuruan, Banyuwangi dan di sebagian Pantai Utara dan Selatan Pulau Madura.

 

Wilayah yang permulaan MK-nya mundur 2 dasarian ada 9% wilayah (331.863 ha) terdapat di Pantai Utara Banten, Jawa Barat sampai Jawa Timur.  Di Pantai Utara Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Serang, Tangerang, DKI Jaya, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Subang, Cirebon, Brebes dan Tegal.  Di Jawa Timur terdapat di Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso.

 

Peta Sifat Hujan MK 2008 Di Sentra Produksi Padi Pulau Jawa

Peta sifat hujan musim kemarau 2008 di sentra produksi padi Pulau Jawa dibagi menjadi 3 kelas, yaitu : 1) atas normal (AN), 2) normal (N) dan 3) bawah normal (BN).  Sifat hujan MK 2008 di Jawa 64% (2.304.352 ha) adalah normal.  Wilayah ini tersebar di  wilayah Banten, Jawa Barat, DKI Jaya, DI Yogyakarta dan Jawa Tengah serta sebagian Jawa Timur.

 

{mosimage} 

Gambar 9.  Peta sifat hujan MK 2008 di sentra produksi padi Pulau Jawa

 

 

Wilayah yang mempunyai sifat hujan MK di atas normal ada 5% (97.410 ha).  Wilayahnya terdapat di pantai selatan Jawa, yaitu di Kabupaten : Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara dan Wonosobo.

Wilayah yang mempunyai sifat hujan MK di bawah normal ada 28% (999.353 ha).  Wilayahnya terdapat sedikit di Jawa Barat dan Jawa Tengah dan sebagian besar Jawa Timur.  Di Jawa Barat terdapat di Kabupaten Subang, Indramayu, Bandung, Sumedang dan Majalengka, sedangkan di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten : Pati dan Kudus.  Di Jawa Timur terdapat di Kabupaten : Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bangkalan dan pantai Selatan Kabupaten Sampang, Pamekasan serta di sepanjang pantai Kabupaten Sumenep (Elza Surmaini, dan Erni Susanti)  

 

Terakhir diperbarui Selasa, 22 April 2014 03:22
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com