Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Efisiensi Sumberdaya Air untuk Pengembangan Tembakau di Nusa Tenggara Barat PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Sabtu, 10 Februari 2007 16:12

Tahun Penelitian 2005

 

Di Nusa Tenggara Barat, tembakau virginia merupakan salah satu produk sub sektor perkebunan. Produktivitas tembakau Virginia meningkat cukup signifikan yakni dari 620 Kg/ha tahun 80-an menjadi 1.232 Kg/ha (rata-rata 3 tahun terakhir). Pertanaman tembakau tidak hanya menonjolkan produksi saja, tetapi kualitas hasil juga sangat diperhitungkan. Oleh karena itu, karakterisasi iklim dan tanah sangat penting, mengingat kondisi daun tembakau dipengaruhi oleh cara pengolahan dan kondisi lingkungannya, seperti kondisi air di pertanaman. Efisiensi penggunaan air dengan mengoptimalkan kebutuhan air tanaman merupakan langkah yang tepat, untuk meningkatkan kualitas dan produksi tembakau (kandungan air pada daun). Untuk menjawab hal itu perlu dilakukan beberapa skenario pemberian air irigasi untuk pertanaman tembakau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi iklim, tanah dan kebutuhan air tanaman tembakau di NTB dan mencari skenario terbaik untuk efisiensi penggunaan air di NTB dalam kaitannya dengan pengembangan tembakau sehingga tercapai sistem produksi yang berkelanjutan.

Penelitian dilakukan di Nusa Tenggara Barat yang dikonsentrasikan di Pulau Lombok melalui beberapa tahapan sebagai berikut: (1) Karakterisasi iklim, tanah dan kebutuhan air tembakau di NTB, (2) Identifikasi potensi sumberdaya air berdasarkan neraca air dan (3) Skenario pemberian air irigasi dengan menggunakan soft ware WARM. Karakterisasi dilakukan untuk mengetahui kondisi tanah, iklim dan ketersediaan air optimal untuk pengembangan tembakau. Untuk menyusun skenario irigasi perlu diketahui jumlah air yang dibutuhkan pada setiap fase pertumbuhan tanaman, jumlah air yang tersedia dan bagaimana mengaturnya agar dapat memenuhi kebutuhan air tanaman terutama pada periode kritisnya. Kebutuhan air tanaman dicerminkan melalui kebutuhan air pada periode defisitnya yang ditandai dengan nisbah ETR/ETM < 0,80 (Baron et al., 1995). Apabila ETR/ETM mendekati satu berarti tanaman menggunakan air dengan efektif yang pada akhirnya akan menghasilkan produksi yang tinggi. Sebaliknya apabila ETR/ETM kurang dari 0,80 berarti tanaman mengalami kekurangan air atau stress air dan akan berakibat terhadap rendahnya produksi (CIRAD dalam Irianto, 2000). Water and Agroclimate Resources Management (WARM) dibangun dari kelompok database yang memuat informasi data iklim, tanah dan tanaman (merupakan data input) yang terintegrasi dalam program neraca air tanaman (Balitklimat, 2002 dan 2004).

 

Curah hujan yang sesuai untuk tembakau di dataran rendah rata-rata 2000 mm/tahun dan untuk dataran tinggi 1500-3500 mm/tahun. Berdasarkan analisis terhadap curah hujan tahunan rata-rata beberapa stasiun di Lombok terlihat bahwa Pulau Lombok cukup memenuhi persyaratan untuk pertanaman tembakau. Namun demikian, di beberapa wilayah tetap membutuhkan input tambahan berupa pengairan secara teratur, karena curah hujannya kurang dari persyaratan minimum (1500 mm). Nilai evapotranspirasi di Pulau Lombok sekitar 40 mm per dasarian, kecuali wilayah Praya Barat di Lombok Tengah yang relatif rendah yaitu sekitar 20 mm per dasarian. Kejadian sebaliknya di Keruak dengan evapotranspirasi hingga 60 mm per dasarian. Suhu udara di NTB berkisar antara 21–32oC dengan kelembaban udara antara 70-90%. Apabila dikaitkan dengan pertanaman tembakau, kisaran suhu tersebut relatif sesuai dengan pengembangan tembakau karena suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tembakau antara 21–32.3oC. Sementara suhu rata-rata optimum harian untuk pertumbuhan berkisar antara 20-30°C.

 

Hasil karakterisasi tanah di Pulau Lombok memilah tanah menjadi empat Order yaitu: (1). Aluvial dan Regosol (Entisols), (2). Grumusol (Vertisols), (3). Mediteran (Alfisols), dan (4). Kambisol (Inceptisols). Tanah-tanah yang menyebar di Lombok Barat umumnya terdiri dari Regosol Kelabu-Coklat (Typic Usthortents) mencakup daerah sekitar Gerung, Mataram dan Bayan, dengan kandungan air tersedia berkisar antara 19,1 % (tinggi) sampai 22,4 % (sangat tinggi), maka daerah ini sesuai untuk pengembangan tembakau. Di Lombok Tengah, sekitar Penujak, Batujai dan Mujur, umumnya tanah berkembang dari endapan liat/batu kapur dan membentuk tanah grumusol (Udic Haplusterts), dengan pori penyimpan lengas/kandungan air tersedia tinggi (19,2%). Jenis tanah Mediteran dan Litosol ditemukan di sekitar Mangkung. Tanah di Lombok Timur didominasi Regosol Kelabu-Coklat dan Grumusol Kelabu. Regosol terdapat di sekitar daerah Apitaik, sedangkan Grumusol di sekitar Selebung/Keruak. Sifat tanah Grumusol di daerah ini kandungan air tersedianya sedang (11,7%). Sedangkan tanah Regosol di sekitar Sikur dan Apitaik mempunyai kandungan air tersedia sedang sampai sangat tinggi (12,3-21,3%).

 

Hasil analisis indeks kecukupan air dan persentase kehilangan hasil menunjukkan bahwa pada umumnya saat tanam tembakau di NTB dapat dimulai pada bulan September atau Oktober, kecuali di wilayah Keruak yang merupakan wilayah yang relatif paling kering. Kondisi cukup air di Keruak terjadi untuk periode penanaman dari November III hingga Desember III, yaitu pada saat potensi kehilangan hasil di bawah 20%. Sedangkan wilayah yang relatif paling basah diwakili Seriganti.

 

Untuk Wilayah Lombok Barat, analisis diwakili oleh tiga wilayah, yaitu Mataram, Gerung dan Bayan. Di wilayah Mataram, tembakau akan mengalami penurunan hasil terbesar pada fase vegetatif. Apabila pada fase ini terjadi defisit air, maka tembakau akan mengalami penurunan produksi. Daerah Mataram mengalami defisit air mulai akhir Januari hingga awal Oktober dengan persentase kehilangan hasil 21-92%. Defisit air di Gerung terjadi mulai awal Maret hingga awal Oktober dengan persentase kehilangan hasil 21-87%. Sedangkan untuk wilayah Bayan defisit air terjadi mulai pertengahan Februari hingga awal Oktober dengan persentase kehilangan hasil 25-97%.

 

Analisis untuk wilayah Lombok Tengah, diwakili oleh empat wilayah yaitu Mujur, Mangkung, Mantang dan Seriganti, Kec. Praya Barat. Di wilayah Mujur defisit air terjadi mulai akhir Februari hingga pertengahan September dengan persentase kehilangan hasil 39-98%. Di wilayah Mangkung defisit air terjadi mulai pertengahan Februari hingga Pertengahan September dengan persentase kehilangan hasil 35-98%. Defisit air di wilayah Mantang mulai akhir Maret hingga pertengahan September dengan persentase kehilangan hasil 22-91%. Sedangkan untuk wilayah Seriganti, Praya Barat, defisit air terjadi mulai akhir Maret hingga akhir Agustus atau merupakan periode yang paling singkat apabila dibandingkan dengan wilayah lain. Persentase kehilangan hasil untuk wilayah Seriganti Praya Barat berkisar antara 22-96%.

 

Wilayah yang dianalisis untuk Lombok Timur, diwakili oleh lima wilayah yaitu Sakra, Sikur, Apitaik- Pringgabaya, Selebung-Keruak dan Pelibe-Keruak. Untuk wilayah Sakra defisit air terjadi mulai awal Maret hingga pertengahan September dengan persentase kehilangan hasil 25-98%. Wilayah Sikur defisit air terjadi mulai pertengahan Maret hingga Pertengahan September dengan persentase kehilangan hasil 42-98%. Defisit air di wilayah Apitaik Pringgabaya mulai akhir Januari hingga akhir September dengan persentase kehilangan hasil 17-74%. Sedangkan di wilayah Selebung-Keruak, defisit air terjadi mulai awal Januari hingga pertengahan November atau merupakan periode yang paling panjang apabila dibandingkan dengan wilayah lain. Persentase kehilangan hasil untuk wilayah Selebung-Keruak berkisar antara 24-100%, sedangkan di Pelibe-Keruak masa defisitnya lebih singkat dibanding Selebung dengan persentase kehilangan hasil antara 23-72%.

 

 

{mosimage}

Gambar Potensi kehilangan hasil dan indeks kecukupan air tembakau di Wilayah Selebung dan Pelibe, Keruak, Lombok Timur

Waktu tanam tembakau terbaik untuk wilayah NTB adalah pada bulan September dan Oktober, kecuali di Keruak baru dapat dilakukan pada bulan November. Penetapan waktu tanam tersebut, lebih dikonsentrasikan untuk peningkatan produksi saja, belum memperhitungkan kualitas daun tembakau.

 

Berdasarkan hasil analisis skenario pemberian air irigasi, untuk mengurangi resiko kehilangan hasil, di wilayah Mataram dibutuhkan aplikasi irigasi dengan jumlah 148 mm untuk satu musim pertumbuhan tembakau dan masa vegetatif membutuhkan aplikasi irigasi yang paling banyak yaitu 85 mm. Sedangkan wilayah Gerung dan Bayan masing-masing membutuhkan 233 dan 342 mm. Untuk wilayah Mujur di Lombok Tengah, aplikasi irigasi yang dibutuhkan sekitar 290 mm dengan jumlah irigasi rekomendasi pada fase installasi 49 mm, fase vegetatif sekitar 40 mm dan fase flowering sekitar 78 mm. Wilayah lain di Lombok tengah yaitu Mangkung, Praya Barat dan Mantang, masing-masing membutuhkan tambahan aplikasi irigasi 336 mm, 214 dan 236 mm/musim tanam. Untuk wilayah Lombok Timur, kebutuhan aplikasi irigasi lebih banyak, jumlah yang direkomendasikan untuk wilayah Sakra, Sikur, Pringgabaya, Selebung dan Pelibe adalah masing-masing 318, 319, 331, 295 dan 286 mm. Input irigasi tersebut dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman tembakau, yaitu sekitar 400-600 mm / musim tanam.

 

Terakhir diperbarui Selasa, 22 April 2014 03:21
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com